Usaha ritel umumnya melakukan penjualan langsung kepada konsumen
akhir. Namun, tidak jarang kita temui
konsumen pada bisnis retail menjual kembali produk yang dibeli untuk
mendapatkan keuntungan. Para peritel berupaya untuk memuaskan kebutuhan
konsumen dengan mencari kesesuaian antara harga, tempat dan waktu yang
diinginkan pelanggan. Sementara, bisnis ini juga menyediakan pasar bagi
produsen untuk menjual produk–produk mereka. Dengan demikian ritel menjadi
distributor akhir yang menghubungkan produsen dengan konsumen.
Ritel mempunyai
beberapa metode untuk pengoperasiannya yaitu :
A. RITEL DALAM BENTUK
TOKO
Fungsi Retail
Dalam metode ini ritel
merupakan tahap akhir proses distribusi dengan dilakukannya pnjualan langsung
pada konsumen akhir. Dimana bisnis retail berfungsi sebagai perantara antara distributor
dengan konsumen akhir.
![]() |
| Image by Google |
Berikut adalah
karakteristik ritel dalam bentuk took :
1. Small Enough Quantity
Toko hanya menyetok barang dalam partai kecil,dalam jumlah secukupnya untuk dikonsumsi sendiri dalam periode tertentu.
2. Impulse buying
Walaupun menyetok barang dalam jumlah secukupnya namun toko ritel menyediakan berbagai jenis dan merek barang yang kita butuhkan sehari-hari jadi sangat variatif sehingga menimbulkan banyak pilihan untuk konsumen
3. Store Condition
Kondisi lingkungan ritel biasanya sangat dekat dengan lingkungan tempat tinggal konsumen dan interior toko ditata sedemikian rupa agar konsumen mudah mencari barang yang ia butuhkan.
1. Pengklasifikasian tipe bisnis ritel
a.
Kepemilikan ( Owner ):
ü Single-Store
Retailer (tipe yang paling banyak jumlahnya di Indonesia dengan ukuran toko
umumnya dibawah 100 m²)
ü Rantai
Toko Retail (toko retail dengan banyak cabang dan dimiliki oleh institusi
perseroan)
ü Toko
Waralaba (toko yang dibangun berdasarkan kontrak kerja sama waralaba antara
terwaralaba dengan pewaralaba)
b.
Merchandise Category:
ü Specialty
Store/ Toko Khas (Menjual satu jenis kategori barang yang relative sedikit/
sempit)
ü Grocery
Store/ Toko Serba Ada (menjual barang groceries (sehari-hari))
ü Departement
Store (menjual sebagian besar bukan kebutuhan pokok, fashionable, bermerek,
dengan 80% pola konyinyasi)
ü Hyperstore(menjual
barang dalam rentang kategori barang yang sangat luas)
B. RITEL DALAM BENTUK
BUKAN TOKO
![]() |
| Image by Google |
Ritel dalam bentuk
bukan toko cenderung pada proses eceran dengan media internet yang biasa
dikenal dengan E-Commerce. E-Commerce merupakan proses pembelian dan penjualan
produk, jasa dan informasi yang dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan
jaringan komputer. Salah satu jaringan yang digunakan adalah internet. meski
melalui media internet tentu saja harus mempelajari transformasi dari pola-pola
penjualan retail secara fisik.
C. RITEL WARALABA
Waralaba merupakan sistem
pemasaran atau distribusi barang dan jasa, di mana sebuah perusahaan induk
(franchisor) memberikan kepada individu atau perusahaan lain (franchisee) yang
berskala kecil atau menengah dengan hak-hak istimewa untuk melakukan suatu
sistem usaha tertentu melalui cara yang sudah ditentukan, selama waktu tertentu
dan di suatu tempat tertentu pula. alah satu keuntungan dari membeli hak
waralaba ini adalah tetap independen (meskipun tidak sepenuhnya), tetapi
memperoleh manfaat dari nama merek dan dari pengalaman jaringan waralaba
tersebut.
Karakteristiknya:
ü Franchisee
menjual barang / jasa berdasarkan kualitas standar, dan teridentifikasi dari
merek dagang franchisor
ü Franchisor
memiliki kontrol atas operasi franchisee
ü Franchisee
diharuskan membayar imbalan berupa “fees” kepada franchisor



Komentar
Posting Komentar